• Jam Buka Toko: Senin - Sabtu 09.00 s/d 18.00 WIB
  • Status Order
  • Tlp: 081287891637
  • SMS/WA: 081281977567
  • Line : @icj7713o
  • BBM : D97FA9CA
  • kiswah.kiosdakwah@gmail.com
Terpopuler:

ADAB MENGHADIRI MAJLIS MAULID NABI DARI HABIB UTSMAN BIN YAHYA (MUFTI BETAWI)

25 November 2017 - Kategori Blog
TATA CARA dan ADAB dalam menyambut “hadirnya” sang kekasih, Nabi kita Muhammad Shollallohu ‘alaihi wa Salam.
(Diringkaskan dari kitab Azzahrul Baasim karya Mufti Betawi zaman Hindia Belanda,
Al-Habib Utsman bin ‘Abdillah bin Yahya rohimahullohu ta’ala):
1)      Dilaksanakan pada tempat-tempat yang terhormat seperti masjid, musholla, majelis-majelis,
atau perkumpulan mulia, dan sebagainya.
2)      Tidak boleh ada pada tempat tersebut suatu patung-patung binatang atau manusia yang
menjadi simbol pengagungan dan penyembahan terhadapnya (misal patung dewa,
bunda maria, dan sejenisnya), karena hal tersebut dibenci oleh beliau (SAW) dan
para Malaikat.
3)      Ketika membaca shirohnya (sejarahnya) yang terdapat dalam Kitab Maulid, tidak boleh
bercampur didalamnya antara laki-laki dengan perempuan. Kecuali adanya hijab
(batas/dinding) yang memisahkan antara perempuan dan laki-laki, sehingga aman
dari fitnah.
4)      Jangan pula ada pada tempat diselenggarakannya, suatu permainan yang HARAM (misal judi
dan sejenisnya). Sebab, hal itu akan mengantarkan pada kedurhakaan besar
melanggar larangan Rosululloh SAW.
5)      Jangan pula ada pada tempat itu segala sesuatu yang beraroma busuk. Seperti rokok,
cerutu, kandang binatang, dan sejenisnya. Maka hendaklah ada pada tempat itu
segala sesuatu wewangian yang harum seperti dupa (gaharu bakar) atau bunga-bungaan.
6)      Hendaklah yang hadir pada tempat penyelenggaran itu membaca sholawat, dan janganlah satu
sama lain saling bercerita, masing-masing “pasang” telinga mendengar
kisah maulid yang dibacakan sambil membaca sholawat.
7)      Apabila nanti disebut akan dzohir (lahir dan hadir)-nya sang Nabi SAW ke dunia, maka
seluruh yang hadir bersegera untuk bangun dan berdiri. Bukan atas dasar
paksaan, tapi karena TAKDZIM (HORMAT), BAHAGIA, dan ANTUSIAS pada hadirnya
beliau (SAW).
Sehingga pada akhirnya segenap hadirin yang
mematuhi aturan-aturan berlaku, kelak akan mendapatkan syafa’at (pertolongan)
dari beliau (SAW) di yaumil akhir serta mendapatkan balasan yang berlipat ganda
dunia wal-akhiroh. InsyaAlloh.

اللهمّ صلّ على سيّدنا و شفيعنا محمّد

وعلى آله وصحبه و سلّم واجعلنا من خيار امّته و من اهل شفاعته برحمتك يا ارحم الرّاحمين آمين

“Allohumma Sholli ‘ala Sayyidina wa
Syafi’ina Muhammadin wa ‘ala Aalihi wa Shohbihi wa Sallim waj’alnaa min
khiyaari ummatihi wa min ahli syafaa’atihi, birohmatika Yaa Arhamarrohimiin,
aamiin
(Yaa Alloh, limpahkanlah sholawat atas
junjungan kami, Nabi kami yang memberi syafa’at bagi kami, yaitu Nabi Muhammad
SAW dan atas keluarganya, dan sahabatnya, serta salam penghormatan atasnya, dan
jadikanlah kami daripada umatnya yang terbaik dan yang mendapat syafa’atnya di
hari kemudian dengan Rahmat-Mu wahai Tuhan yang memiliki sifat Kasih Sayang
melebihi semua yang memiliki sifat kasih sayang, aamiin)
wallohu a’lam bishshowaab.