HUKUM FIQIH KALIGRAFI

08 January 2015 - Kategori Blog

Menulis ayat Al-Qur`an dan hadits, dengan khat yang indah (kaligrafi) atau khat biasa, yang diniatkan sebagai hiasan, di dinding, baju, makanan dan lainnya, hukumnya adalah makruh menurut para ulama Syafi’iyah dan sebagian ulama Hanafiyah. Bahkan Imam Suyuthi menghikayatkan kerasnya kemakruhannya. Imam Nawawi lebih mengharamkan lagi jika menulisnya dengan bahan yang najis.

التبيان في آداب حملة القرآن

مذهبنا أنه يُكره نقش الحيطان والثياب بالقرآن , وبأسماء الله تعالى

لا تجوزُ كتابة القرآن بشيءٍ نجسٍ , وتُكره كتابته على الجدران عندنا

Madzhab kami bahwa sesungguhnya dimakruhkan menulis Al-Qur`an pada dinding dan baju, maupun menulis nama-nama Allah Ta’ala

Tidak diperbolehkan menulis Al-Qur`an dengan sesuatu yang najis. Dan bagi kami, makruh hukumnya menulis Al-Qur`an di dinding.

روضة الطالبين 1/80

ويكره كتابته على الحيطان سواء المسجد وغيره

Dalam Roudhotuth-Tholibin, Imam Nawawi juga memakruhkan menulis Al-Qur`an pada dinding, walaupun masjid, dan juga selainnya.

الإقناع في حل ألفاظ أبي شجاع 1/104

ويُكره كتبُ القرآن على حائط ولو لمسجد , وثياب , وطعام , ونحو ذلك , ويجوزُ هدم الحائط , ولبس الثوب , وأكل الطعام , ولا تضرُّ ملاقاته ما في المعدة , بخلاف ابتلاع قرطاس عليه اسم الله تعالى فإنه يحرمُ عليه

حاشية الشرواني 1/156

يُكره كتبُ القرآن على حائط , وسقف , ولو لمسجد , وثياب , وطعام , ونحو ذلك

الإتقان في علوم القرآن 2/454

قال أصحابنا : وتكره كتابته على الحيطان , والجدران , وعلى السقوف أشدّ كراهة

ﺣﺎﺷﻴﺔ ﺍﻟﺒﺠﻴﺮﻣﻲ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﺨﻄﻴﺐ 3/306

ﻭﻳﻜﺮﻩ ﻛﺘﺐ ﺍﻟﻘﺮﺁﻥ ﻋﻠﻰ ﺣﺎﺋﻂ ﻭﻟﻮ ﻟﻤﺴﺠﺪ ﻭﺛﻴﺎﺏ ﻭﻃﻌﺎﻡ ﻭﻧﺤﻮ ﺫﻟﻚ ، ﻭﻳﺠﻮﺯ ﻫﺪﻡ ﺍﻟﺤﺎﺋﻂ ﻭﻟﺒﺲ ﺍﻟﺜﻮﺏ ﻭﺃﻛﻞ ﺍﻟﻄﻌﺎﻡ.

Dan makruh menulis Al-Qur`an pada dinding walaupun dinding masjid, dan pakaian, dan makanan dan selainnya. Boleh merobohkan dinding (yang ditulisi Al-Qur`an), memakai baju (yang ditulisi Al-Qur`an), dan memakan makanan (yang ditulisi Al-Qur`an). [Hasyiyah Bujeremi ‘alal Khathib 3/306] Dalam Mughni Muhtaj juga terdapat ibarot yang persis.

ﻣﻐﻨﻰ ﻣﺤﺘﺎﺝ 1/152

ﻳﻜﺮﻩ ﻛﺘﺐُ ﺍﻟﻘﺮﺁﻥ ﻋﻠﻰ ﺣﺎﺋﻂ ﻭﻟﻮ ﻟﻤﺴﺠﺪ، ﻭﺛﻴﺎﺏٍ ﻭﻃﻌﺎﻡٍ ﻭﻧﺤﻮ ﺫﻟﻚ، ﻭﻳﺠﻮﺯ ﻫﺪﻡ ﺍﻟﺤﺎﺋﻂ ﻭﻟﺒﺚ ﺍﻟﺜﻮﺏ ﻭﺃﻛﻞ ﺍﻟﻄﻌﺎﻡ

ﺃﺳﻨﻰ ﺍﻟﻤﻄﺎﻟﺐ 1/62

ﻭﻳﻜﺮﻩ ﻛﺘﺒﻪ ﺃﻱ ﺍﻟﻘﺮﺁﻥ ﻋﻠﻰ ﺣﺎﺋﻂ ﻭﻟﻮ ﻟﻤﺴﺠﺪ ﻭﻋﻤﺎﻣﺔ ﻟﻮ ﻗﺎﻝ ﻭﺛﻴﺎﺏ ﻛﻤﺎ ﻓﻲ ﺍﻟﺮﻭﺿﺔ ﻛﺎﻥ ﺃﻭﻟﻰ ﻭﻃﻌﺎﻡ ﻭﻧﺤﻮﻫﺎ،

Makruh menulisnya yaitu Al-Qur`an pada dinding walaupun dinding masjid dan juga pada ‘imamah (penutup kepala khas timur tengah), seandainya penulis berkata dan juga pada pakaian, sebagaimana terdapat pada kitab Raudhah, itu lebih pas, dan pula pada pakaian dan selainnya. [Asnal Mathalib 1/62]

Bersamaan dengan itu kita perlu melihat realitas sosio-politis dimana sering kali masjid dijadikan obyek publisitas organisasinya, bahkan partai politik, juga media bisnis, sehingga kadang kita dapatkan di teras masjid ada spanduk promosi bisnis atau di mihrab imam shalat digantungkan kaligrafi identitas sebuah ormas. Jika terjadi demikian, maka yang dimakruhkan adalah yang semacam itu, dan bukan malah kaligrafi ayat Al-Qur`an yang dilarang, karena semua masjid adalah baitullah.

ﺷﺮﺡ ﺍﻟﻄﺮﻳﻘﺔ ﺍﻟﻤﺤﻤﺪﻳﺔ ﻟﻴﺪﻯ ﻋﺒﺪ ﺍﻟﻐﻨﻰ ﺍﻟﻨﺒﻠﻰ ﺹ 634

ﻭﺗﻜﺮﻩ ﻛﺘﺎﺑﺔ ﺍﻟﻘﺮﺁﻥ ﻭﺍﺳﻤﺎﺀ ﺍﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﺪﺍﺭﻫﻢ ﻭﺍﻟﻤﺤﺎﺭﻳﺒﻰ ﺍﻭ ﺍﻟﺠﺪﺭﺍﻥ ﻭﻣﺎ ﻳﻔﺮﺵ ﻭﻓﻰ ﺍﻟﻘﻨﻴﺔ ﺳﺒﺎﻁ ﺍﻭ ﻏﻴﺮﻩ ﻛﺘﺐ ﻋﻠﺒﻪ ﺍﻟﻤﻠﻚ ﺍﻟﻠﻪ ﻳﻜﺮﻩ ﺑﺴﻄﻪ ﻭﺍﺳﺘﻌﻤﺎﻟﻪ ﺍﻻ ﺍﺫﺍ ﻋﻠﻖ ﻟﻠﺰﻳﻨﺔ ﻳﻨﺒﻐﻰ ﺍﻥ ﻻ ﻳﻜﺮﻩ

Makruh menulis Al-Qur`an dan nama-nama Allah Ta’ala pada uang dirham, mihrab, dinding,…… Kecuali jika keduanya digantungkan sebagai hiasan maka lebih pantas untuk tidak dimakruhkan.

Ibarot ini mengingatkan kita pada realitas masyarakat yang menjadikan foto seleb idola sebagai pajangan rumah, yang mana hal itu lebih pantas untuk dihukumi makruh, bahkan ada juga yang memajang foto-foto panas. Maka diharuskan merusak atau melenyapkannya dan menggantinya dengan kaligrafi ayat Al-Qur`an dan hadits.

Adapun jika kaligrafi ayat Al-Qur`an dan hadits itu digantung/dipajang untuk dijadikan sebagai hafalan atau pengingat, maka hal itu diperbolehkan.

Menurut ulama Hanafiyah, sebagiannya menghukumi boleh, sebagiannya menghukumi makruh sebagaimana para ulama syafi’iyah.

الفتاوى الهندية 5 / 323 ط دار الفكر

وَلَوْ كُتِبَ الْقُرْآنُ عَلَى الْحِيطَانِ وَالْجُدَرَانِ بَعْضُهُمْ قَالُوا : يُرْجَى أَنْ يَجُوزَ , وَبَعْضُهُمْ كَرِهُوا ذَلِكَ مَخَافَةَ السُّقُوطِ تَحْتَ أَقْدَامِ النَّاسِ , كَذَا فِي فَتَاوَى قَاضِي خَانْ

Dan jika Al-Qur`an ditulis pada dinding, sebagian mereka berkata, diharapkan hal itu boleh, sebagian mereka membencinya (menghukumi makruh), karena mereka takut apabila Al-Qur`an berada di bawah kaki manusia (yakni pada bangunan bertingkat). Ini sebagaimana dalam Fatawi Qadhi Khan.

البحر الرائق شرح كنز الدقائق 2/40

وليسَ بمستَحسَنٍ كتابةُ القُرآنِ على المحاريبِ وَالجدرَانِ لِما يُخَافُ من سُقوطِ الكتَابةِ وأَن تُوطأَ

حاشية ابن عابدين 1/179

وتُكره كتابة القرآن , وأسماء الله تعالى على الدرهم , والمحاريب , والجدران , وما يُفرش , والله تعالى أعلم

Mayoritas ulama Malikiyah juga menghukumi makruh memajang ayat Al-Qur`an sebagai hiasan semata.

الجامع لأحكام القرآن 1/30

ومِن حرمته ألاَّ يُكتب على الأرض ولا على حائط كما يُفعل به في المساجد الْمُحدَثة , حدثنا محمد بن علي الشقيقي عن أبيه عن عبد الله بن المبارك عن سفيان عن محمد بن الزبير قال : سمعت عمر بن عبد العزيز يُحدِّث قال : « مرَّ رسولُ الله صلى الله عليه وسلم بكتاب في أرض فقال لشاب من هذيل : ما هذا قال : من كتاب الله كتبه يهودي , فقال : لعنَ الله من فعل هذا , لا تضعوا كتاب الله إلاَّ موضعه » قال محمد بن الزبير : رأى عمر بن عبد العزيز ابناً له يكتب القرآن على حائط فضربه

الشرح الكبير على مختصر خليل 1/425

وظاهره أن النقش مكروه ولو قرآناً , وينبغي الحرمة , لأنه يُؤدِّي إلى امتهانه كذا ذكروا , ومثله نقش القرآن ,

وأسماء الله في الجدران

====

Hukum Menuliskan Ayat-Ayat Qur’an Pada Tembok

Menurut mayoritas ulama’, menuliskan ayat-ayat al-qur’an ditembok hukumnya makruh, sedangkan menurut sebagian ulama’ madzhab hanafi hukumnya boleh.

Referensi:
1. Al-Mausu’ah al-Fiqhiyyah al-Kuwaitiyah, juz 33 hal. 40 (Fiqih Perbandingan)

ذَهَبَ الْمَالِكِيَّةُ وَالشَّافِعِيَّةُ وَالْحَنَابِلَةُ وَبَعْضُ الْحَنَفِيَّةِ إِلَى أَنَّهُ يُكْرَهُ نَقْشُ الْحِيطَانِ بِالْقُرْآنِ. وَقَال بَعْضُ الْحَنَفِيَّةِ: يُرْجَى أَنْ يَجُوزَ.

Madzhab Maliki, Syafi’i, Hanbali, dan sebagian ulama’ madzhab Hanafi menyatakan kemakruhan mengukir tembok dengan al-Qur’an, sedangkan sebagian ulama’ madzhab Hanafi mengatakan: “Diharapkan hal tersebut diperbolehkan.”

2. At-Tibyan fi Adabi Hamalatil Qur’an, hal. 190 (Madzhab Syafi’i)

لَا تَجُوْزُ كِتَابَةُ الْقُرْآنِ بِشَئْ ٍنَجِسٍ، وَتُكْرَهُ كِتَابَتُهُ عَلَى الْجِدْرَانِ.

Tidak diperbolehkan menulis al-Qur’an dengan benda yang najis, dan dimaktuhkan menuliskannya pada tembok menurut pendapat kami (madzhab Syafi’i).

3. Al-Fatawa al-Hindiyah, juz 5 hal. 323 (Madzhab Hanafi)

وَلَوْ كُتِبَ الْقُرْآنُ عَلَى الْحِيطَانِ وَالْجُدَرَانِ بَعْضُهُمْ قَالُوا : يُرْجَى أَنْ يَجُوزَ، وَبَعْضُهُمْ كَرِهُوا ذَلِكَ مَخَافَةَ السُّقُوطِ تَحْتَ أَقْدَامِ النَّاسِ.

Apabila al-Qur’an ditulis pada tembok dan dinding, sebagian ulama’ menyatakan; “Hal tersebut bida diharapkan untuk diperbolehkan”. Sedangkan sebagian ulama’ memakruhkan hal itu, karena dikhawatirkan runtuh dibawah kaki manusia.”

CATATAN: Apa yang saya tulis ini bukanlah kesimpulan final, melainkan sebatas rumusan jawaban yang mungkin dapat membantu para fuqaha atau ulama khususnya mufti untuk menetapkan bagaimana hukum yang semestinya, karena saya hanya penuntut ilmu yang baru kemarin sore.

 
Tanya via Whatsapp