SYA’IR LIR ILIR SUNAN KALIJAGA

14 April 2015 - Kategori Blog

SUNAN_KALIJAGA-11

 

Tembang ini merupakan tembang dakwah yang mengandung sarat makna filosofis. Dikenal luas merupakan hasil gubahan Sunan Kalijaga.

Sunan Kalijaga seperti halnya Sunan-Sunan lain dalam Wali Songo, berdakwah dengan pendekatan yang sangat menghargai kearifan lokal. Gamelan dan Wayang dikenal merupakan beberapa alat dakwah beliau. Banyak gubahan hasil karya beliau, namun yang paling kita kenal mungkin adalah Lir-ilir ini. Ditembangkan dalam bahasa jawa, yang gaya bahasanya sekarang masih dapat ditemui dalam bahasa jawa pesantren tradisional.

Sunan Kalijaga merupakan wali yang namanya paling banyak disebut masyarakat Jawa. Ia lahir sekitar tahun 1450 Masehi. Masa hidup Sunan Kalijaga diperkirakan mencapai lebih dari 100 tahun. Dalam dakwah, ia punya pola yang sama dengan mentor sekaligus sahabat dekatnya, Sunan Bonang.

silsilah walisongo

Sunan Kalijaga sangat toleran pada budaya lokal. Ia berpendapat bahwa masyarakat akan menjauh jika diserang pendiriannya. Maka mereka harus didekati secara bertahap: mengikuti sambil mempengaruhi. Sunan Kalijaga berkeyakinan jika Islam sudah dipahami, dengan sendirinya kebiasaan lama hilang.

Sunan Kalijaga terkesan sinkretis (mencari penyesuaian) dalam mengenalkan Islam. Ia menggunakan seni ukir, wayang, gamelan, serta seni suara suluk sebagai sarana dakwah. Metode dakwah tersebut sangat efektif. Salah satu metode dakwah yang digunakan Sunan Kalijaga adalah ajaran dan dzikir melalui tembang lir ilir. Tak banyak yang menyadari bahwa sesungguhnya tembang ini bukan sekedar tembang dolanan biasa. Ada makna mendalam terkandung dalam tembang sederhana ini.

Berikut ini adalah lirik Lir-ilir :

Lir-ilir, lir-ilir tandure wis sumilir
Tak ijo royo-royo, tak senggo temanten anyar

Cah angon-cah angon penekno blimbing kuwi
Lunyu-lunyu yo penekno kanggo mbasuh dodotiro

Dodotiro-dodotiro kumitir bedhah ing pinggir
Dondomono jlumatono kanggo sebo mengko sore

Mumpung padhang rembulane, mumpung jembar kalangane
Yo surako… surak hiyo…

Dalam Bahasa Indonesia, kurang lebih artinya :

Lir-ilir, lir-ilir
Bangkitlah,bangkitlah

tandure wis sumilir
Pohon sudah mulai bersemi

Tak ijo royo-royo
Bagaikan warna hijau yang menyejukkan

tak senggo temanten anyar 2kali
Bagaikan sepasang pengantin baru

Cah angon-cah angon
Wahai anak gembala ,Wahai anak gembala

penekno blimbing kuwi
tolong panjatkan pohon blimbing itu

Lunyu-lunyu yo penekno
walaupun licin(susah) tetaplah  memanjatnya

kanggo mbasuh dodotiro 2kali
untuk mencuci pakaian yang kotor itu

Dodotiro-dodotiro
Pakaian Pakaianmu

kumitir bedhah ing pinggir
Telah rosak dan robek

Dondomono jlumatono 
Jahitlah perbaikilah

kanggo sebo mengko sore 2kali
Untuk bekalan nanti sore

Mumpung padhang rembulane,
Selagi rambulan masih purnama

mumpung jembar kalangane
selagi tempat masih luang dan lapang

Yo surako… surak hiyo…
Berserahlah dengan rasa syukur

Makna tembang lir ilir dalam agama Islam:

Ayo bangkit Islam telah lahir.Hijau sebagai simbol agama Islam kemunculannya begitu menarik ibarat pengantin baru.

Pemimpin yang mengembala rakyat kenalah Islam sebagai agamamu.
Ia ibarat belimbing dengan 5 sisi sebagai 5 rukun Islam.

Meskipun sulit dan banyak rintangan sebarkanlah ke masyarakat dan anutlah.Guna untuk mensucikan diri dari segala dosa dan mensucikan aqidah.

Terapkanlah Islam secara kaffah sampai ke rakyat kecil (pinggiran).

Perbaikilah apa yang telah menyimpang dari ajaran Islam untuk dirimu dan orang lain guna bekal kamu di akhirat kelak.Mumpung masih hidup dan selagi masih diberikan kesempatan untuk bertobat.

Dan berbahagialah semoga selalu dirahmati Allah.

Apakah makna mendalam dari tembang ini ?

1.Lir-ilir, lir-ilir, tandure wus sumilir.

Sayup-sayup bangun (dari tidur), tanaman-tanaman sudah mulai bersemi. Kanjeng Sunan mengingatkan agar orang-orang Islam segera bangun dan bergerak. Karena saatnya telah tiba. Bagaikan tanaman yang telah siap dipanen, demikian pula rakyat di Jawa saat itu (setelah kejatuhan Majapahit) telah siap menerima petunjuk dan ajaran Islam dari para wali. diri kita masing-masing). Dengan berdzikir maka ada sesuatu yang dihidupkan.

Lir-ilir, lir-ilir

tembang ini diawalii dengan ilir-ilir yang artinya bangun-bangun atau bisa diartikan hiduplah (karena sejatinya tidur itu mati) bisa juga diartikan sebagai sadarlah. Tetapi yang perlu dikaji lagi, apa yang perlu untuk dibangunkan? Apa yang perlu dihidupkan? hidupnya Apa ? Ruh? kesadaran ? Pikiran?

terserah kita yang penting ada sesuatu yang dihidupkan, dan jangan lupa disini ada unsur angin, berarti cara menghidupkannya ada gerak..(kita fikirkan ini)..gerak menghasilkan udara. ini adalah ajakan untuk berdzikir. Dengan berdzikir, maka ada sesuatu yang dihidupkan.

2.Tak ijo royo-royo tak senggo temanten anyar.

Tandure wus sumilir, Tak ijo royo-royo tak senggo temanten anyar.

Bait ini mengandung makna kalau sudah berdzikir maka disitu akan didapatkan manfaat yang dapat menghidupkan pohon yang hijau dan indah. Pohon di sini artinya adalah sesuatu yang memiliki banyak manfaat bagi kita. Demikian menghijau bagaikan gairah pengantin baru. Hijau adalah simbol warna kejayaan Islam, dan agama Islam disini digambarkan seperti pengantin baru yang menarik hati siapapun yang melihatnya dan membawa kebahagiaan bagi orang-orang sekitarnya

Pengantin baru ada yang mengartikan sebagai Raja-Raja Jawa yang baru memeluk agama Islam. Sedemikian maraknya perkembangan masyarakat untuk masuk ke agama Islam, namun taraf penyerapan dan implementasinya masih level pemula, layaknya penganten baru dalam jenjang kehidupan pernikahannya.

3. Cah angon-cah angon penekno blimbing kuwi.

Mengapa kok “Cah angon” ?
Bukan “Pak Jendral” , “Pak Presiden” atau yang lain? Mengapa dipilih “Cah angon” ? Pastilah bukan karena ‘pak DPR’ tidak pinter manjat pohon (belimbing). Atau karena mereka ‘pinternya’ manjat proyek?

Cah angon maksudnya adalah seorang yang mampu membawa makmumnya, seorang yang mampu “menggembalakan” makmumnya dalam jalan yang benar.

Lalu,kenapa “Blimbing” ?
Ingat sekali lagi, bahwa blimbing berwarna hijau (ciri khas Islam) dan memiliki 5 sisi. Jadi blimbing itu adalah isyarat dari agama Islam, yang dicerminkan dari 5 sisi buah blimbing yang menggambarkan rukun Islam yang merupakan Dasar dari agama Islam.

Kenapa “Penekno” ?
ini adalah ajakan para wali kepada Raja-Raja tanah Jawa untuk mengambil Islam dan dan mengajak masyarakat untuk mengikuti jejak para Raja itu dalam melaksanakan Islam.

4.Lunyu-lunyu yo penekno kanggo mbasuh dodotiro.

Walaupun licin tetap panjatlah untuk mencuci pakaian Dodot adalah sejenis kain kebesaran orang Jawa yang hanya digunakan pada upacara-upacara atau saat-saat penting. Dan buah belimbing pada jaman dahulu, karena kandungan asamnya sering digunakan sebagai pencuci kain, terutama untuk merawat kain batik supaya tetap awet.

Dengan kalimat ini Sunan memerintahkan orang Islam untuk tetap berusaha menjalankan lima rukun Islam dan sholat lima waktu walaupun banyak rintangannya (licin jalannya).

Lunyu lunyu penekno kanggo mbasuh dodotiro.

Walaupun dengan bersusah payah, walupun penuh rintangan, tetaplah ambil untuk membersihkan pakaian kita. agama itu seperti pakaian bagi jiwanya. Walaupun bukan sembarang pakaian biasa Yang dimaksud pakaian adalah taqwa. Pakaian taqwa ini yang harus dibersihkan.

5.Dodotiro-dodotiro kumitir bedhah ing pinggir.

Pakaian-pakaian yang koyak disisihkan. Saat itu kemerosotan moral telah menyebabkan banyak orang meninggalkan ajaran agama mereka sehingga kehidupan beragama mereka digambarkan seperti pakaian yang telah rusak dan robek.

Dodotiro dodotiro, kumitir bedah ing pinggir.

Pakaian taqwa harus kita bersihkan, yang jelek jelek kita singkirkan, kita tinggalkan, perbaiki, rajutlah hingga menjadi pakain yang indah
”sebaik-baik pakaian adalah pakaian taqwa“.

6.Dondomono jlumatono kanggo sebo mengko sore.

Jahitlah benahilah untuk menghadap nanti sore. Seba artinya menghadap orang yang berkuasa (raja/gusti), oleh karena itu disebut ‘paseban’ yaitu tempat menghadap raja. Disini Sunan memerintahkan agar orang Jawa memperbaiki kehidupan beragamanya yang telah rusak tadi dengan cara menjalankan ajaran agama Islam secara benar, untuk bekal menghadap Allah SWT di hari nanti.

dondomono jlumatono kanggo sebo mengko sore.

Pesan dari para Wali bahwa suatu ketika kamu akan mati dan akan menemui Sang Maha Pencipta untuk mempertanggungjawabkan segala perbuatanmu. Maka benahilah dan sempurnakanlah ke Islamanmu agar kamu selamat pada hari pertanggungjawaban kelak.

7. Mumpung padhang rembulane, mumpung jembar kalangane.

Selagi sedang terang rembulannya, selagi sedang banyak waktu luang Selagi masih banyak waktu, selagi masih banyak kesempatan, perbaikilah kehidupan beragamamu dan bertaubatlah.

Mumpung padhang rembulane, mumpung jembar kalangane.

Para wali mengingatkan agar para penganut Islam melaksanakan hal tersebut ketika pintu hidayah masih terbuka lebar, ketika kesempatan itu masih ada di depan mata, ketika usia masih menempel pada hayat kita.

8.Yo surako, surak hiyo.

Mari bersorak-sorak ayo… Bergembiralah, semoga kalian mendapat anugerah dari Tuhan. Disaatnya nanti datang panggilan dari Yang Maha Kuasa nanti, sepatutnya bagi mereka yang telah menjaga kehidupan beragama-nya dengan baik untuk menjawabnya dengan gembira.

Yo surako surak hiyo.

Sambutlah seruan ini dengan sorak sorai “mari kita terapkan syariat Islam” sebagai tanda kebahagiaan.

Yang mulia Habib Syeikh Assegaf mengalunkan tembang lir ilir gubahan sunan kalijaga dgn penuh bersemangat pada majlis mega maulid 2013 diKuala Lumpur

Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu
(Al-Anfal :25)

Mungkin itu bukan satu2nya makna tersirat dalam lagu Ilir-ilir.  Ada beberapa kajian yang memberi makna asosiatif yang agak berbeda. Tapi secara umum makna ini tidak jauh dari ajakan untuk bangkit dan membersihkan hati. Merevisi kesalahan diri. Makna yang  menarik banyak antusiasme musikus-sastra.

Carrol McLaughlin, profesor harpa dari Arizona University terkagum dengan tembang ini dan sering memainkannya. Maya Hasan, pemain Harpa Indonesia pernah mengatakan sangat ingin mengerti filosofi lagu ini. Mereka,  bersama Hiroko Saito (Jepang), Kellie Marie Cousineau (Amerika Serikat), dan Lizary Rodrigues (Puerto Rico) pernah berusaha menerjemahkannya dalam musik Jazz pada konser musik

 
Tanya via Whatsapp